2 August 2013

Mata pelajaran TIK dan Muatan lokal dihapus pada Kurikulum 2013

Kicauan Wong cilik - Hasil keputusan Menteri pendidikan tentang Kurikulum 2013 yang menyatakan bahwa salah satu mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi(TIK)  akan di hilangkan dari daftar Mata pelajaran. Hal ini menimbulkan beberapa kontroversi di kalangan tenaga pengajar di bidang TIK itu sendiri.Nasib tenaga pengajar TIK yang sudah tersertifikasi sekarang berada dalam ambang ketidak pastian.

Sekarang yang jadi pertanyaan kita adalah, Mengapa mata pelajaran TIK di hilangkan?
Banyak sumber yang berbicara dan memberikan alasan bahwa  

"Anak-anak peserta didik sudah bisa mengoperasikan komputer bahkan sejak usia dini."
Apakah sepenuhnya benar pernyataan tersebut. Kita menoleh kepada kenyataan, hanya sebagian kecil saja anak yang bisa mengoperasikan komputer di Indonesia, hanya kalangan atau masyarakat tertentu saja anak-anak kalangan orang mampu dan fasilitas di sekolahnya misalnya.

Dari berbagai survei di berbagai daerah di Indonesia, banyak anak yang tidak tahu tentang Komputer, Tidak bisa cara menghidupkannya bahkan tidak pernah melihat salah satu teknologi perambah Dunia itu.
Dari pelatihan pengembangan ICT, dapat di simpulkan bahwa semua badan pendidikan dari segala jenjang di harapkan sudah bisa berubah dari sistem pengajaran manual menjadi sistem komputerisasi di semua aspek pengajaran sekolah, mulai dari sistem Penerimaan Peserta Didik baru online, dalam kegiatan belajar mengajar bisa dimana saja dan dalam kondisi apa saja dengan memanfaatkan media online, sampai semua aktifitas kegiatan siswa dan guru harus tercantum secara online di website utama sekolah.

Saya sangat pro dengan sistem pengajaran Komputerisasi  tersebut,karena bisa memperingan,mempercepat,menpersingat proses pembelajaran. Peserta didik tidak harus banyak membawa peralatan sekolah yang berat,pengerjaan tugas yang harus banyak menulis sampai berlembar-lembar dan Fakta sekarang :
"Peserta didik malas untuk mengerjakan tugas karena sistem pembelajaran yang membuat siswa Jenuh dan terkesan membosankan, dan itulah masalah besar Calon generasi penerus bangsa ini".
Metode yang lebih mengena adalah dengan cara ekstra kulikuler pengembangan talenta sesuai bakat perserta didik dan mereka yang memilih.Jadi peserta didik merasa nyaman dengan pilihannya tersebut dan sudah pasti dia sukai, faktor tersebut akan menetaskan telur-telur penerus generasi bangsa.

Muatan lokal di hilangkan, nah yang ini benar-benar tidak mengerti saya, mengapa muatan lokal seperti baasa daerah di hilangkan??? meskipun setiap warga dari daerah tertentu sudah bisa berbahasa daerahnya tetapi apakah harus pelajaran bahasa daerah di hapus?

Masuknya budaya-budaya luar adalah Faktor terbesar campur aduknya Budaya indonesia yang semakin terkikis tergerus budaya Barat. Begitu juga bahasa daerah sudah banyak dikalangan remaja yang berbahasa daerah campur bahasa luar. Bahasa orang dikuasai bahasa nenek moyang hanya sekedar bicara.
Sangat disayangkan.

Saya adalah Professional Web Developer di Synegare.com. Hobi saya menulis dan membuat film. Semoga tulisan saya di blog ini dapat bermanfaat bagi anda.


Cara Berkomentar untuk yang anda yang tidak memliki Blog:
1. Klik "Select profile" lalu pilih Name/URL
2. Isi nama Anda dan Kosongkan URL atau isi dengan alamat facebook Anda
3. Klik Lanjutkan
4. Tulis komentar Anda dan klik publish
Form komentar ini tanpa moderasi dan verifikasi, kami harap anda tidak mengirim SPAM,Sara atau tindakan pelecehan lainnya

Dapatkan kunjungan balik ke website atau blog Anda dengan berkomentar dan Follow situs ini. Anda juga akan mendapatkan follower yang lebih banyak.

EmoticonEmoticon